Renovasi Rumah Adat Gorga

Rumah Adat


Rumah Adat - Sekitar 40 lokasi tinggal adat gorga yang sedang di Huta Raja, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangaruruan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, akan direvitalisasi pemerintah melewati Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Berdasarkan keterangan dari Dirjen Cipta Karya Danis H Sumadilaga, revitalisasi ini dilakukan tak melulu untuk memperbaiki situasi rumah yang mayoritas sudah mulai rusak dampak telah di bina ratusan tahun yang lalu, tetapi pun untuk menjaga aspek kebiasaan yang terdapat di distrik tersebut.

“Kita juga dapat mempertahankan heritage dari bangunan bangunan itu, dan pun kita dukung dengan fasilitas-fasilitas,” kata Danis untuk Kompas.com ketika berada di lokasi, Senin (29/7/2019).

Rumah Adat Gorga Telan Anggaran Rp 20 Miliar


Setidaknya, perkiraan yang diperlukan untuk merevitalisasi suatu rumah menjangkau Rp 300 juta.

Rumah Adat -Di samping itu, pun akan dilaksanakan penataan area serta penggantian lokasi tinggal warga yang telah berpindah menjadi bangunan yang lebih modern. Bangunan itu nantinya bakal diganti dengan lokasi tinggal gorga yang baru. “Kalau tadi yang teridentifikasi dari informasi saja terdapat 40, nanti anda survei lagi.

Renovasi Rumah Adat Gorga


Tapi mungkin sejumlah bangunan yang tersebut tidak seluruh itu,” cetus Danis. “Untuk perkiraan kami hitung dulu. Kalau saya dari lokasi tinggal ya dengan 40 gitu barangkali antara Rp 15 miliar sampai Rp 20 miliar,” imbuh dia.

Rencananya, revitalisasi ini bakal melibatkan arsitek berpengalaman Yori Antar untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan yang ada. Ia juga meyakinkan bahwa masyarakat bakal mendapat deviden dari revitalisasi ini.

“Nanti lokasi tinggal direhabailitasi jadi homestay, agar ada income, jadi masyarakatnya ikut menikmati akibat pembangunan pariwisata,” kata Yori.

Pengertian Rumah Adat

Pengertian Rumah Adat

Pengertian Rumah Adat - Budihardjo (1994:57) rumah ialah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam format kreativitas dan pemberian makna untuk kehidupan penghuninya. Selain tersebut rumah ialah cerminan diri, yang dinamakan Pedro Arrupe sebagai ”Status Conferring Function”, kesuksesan seseorang terlukis dari lokasi tinggal dan lingkungan lokasi huniannya.

Pengertian Rumah Adat

Rumah Adat ialah bangunan yang mempunyai cirikhas khusus, dipakai untuk lokasi hunian oleh sebuah suku bangsa tertentu.Rumah adat adalahsalah satu representasi kebudayaan yang sangat tinggi dalam suatu komunitas suku/masyarakat. Keberadaan lokasi tinggal adat di Indonesia sangat pelbagai dan mempunyai makna yang urgen dalam perspektif sejarah, warisan, dan peradaban masyarakat dalam suatu peradaban.

Pengertian Rumah Adat

Rumah-rumah adat di indonesia memiliki format dan arsitektur masing-masing wilayah sesuai dengan kebiasaan adat lokal. Rumah adat pada lazimnya dihiasi ukiran-ukiran indah, pada jaman dulu, lokasi tinggal adat yang terlihat paling estetis biasa dipunyai para family kerajaan atau ketua adat setempat memakai kayu-kayu opsi dan pengerjaannya dilaksanakan secara tradisional melibatkan tenaga berpengalaman dibidangnya, Banyak rumah-rumah adat yang ketika ini masih berdiri kokoh dan sengaja dijaga dan dilestarikan sebagai simbol kebiasaan Indonesia.

Rumah Joglo Kaya Sejarah , Rumah Adat Terkenal di Indonesia



Rumah Adat Jawa Tengah – Rumah adat joglo ialah sebuah lokasi tinggal adat yang berada di suatu provinsi Jawa Tengah. Pada zaman dulu, lokasi tinggal joglo adalahsebuah simbol dari kedudukan sosial yang melulu mampu dipunyai oleh sejumlah orang dan pastinya yang memiliki posisi urgen pada masa itu.

Maka dari itu, janganlah kalian heran andai orang yang menduduki rumah ini ialah para kalangan bangsawan, orang kaya, orang terpandang, dan pun seorang raja. Akan tetapi, kini ini sudah tidak sedikit dijumpai lokasi tinggal joglo di mana-mana dan dihuni oleh sejumlah macam kalangan masyarakat.

Rumah Joglo, Rumah Adat Terkenal di Indonesia yang Kaya Sejarah


Bentuk lokasi tinggal joglo pada zaman dahulu merupakan berbentuk bujur sangkar dan ditopang oleh empat buah tiang di dalamnya. Tiang-tiang ini mempunyai istilah yakni ‘saka guru’. Nah, penopang tiang itu ialah sebuah blandar bersusun yang biasa dikenal dengan ‘tumpangsari’.

Mengikuti pertumbuhan zaman, lokasi tinggal ini memiliki sekian banyak  macam modifikasi sendiri-sendiri, cocok dengan orang yang menempatinya. Akan tetapi format yang sangat sering dijumpai ialah bentuk persegi. Dalam urusan bahan, lokasi tinggal ini selalu memakai bahan kayu. Kayu yang dipakai seperti kayu jati, sengon serta bahan pohon kelapa. Dikarenakan dalam pemakaiaan kayu dinilai lebih awet, tahan lama, dan mempunyai kekuatan tinggi.

Ciri khas beda yang dipunyai rumah adat ini ialah atapnya. Atap yang dipakai oleh lokasi tinggal ini ialah perpaduan dari dua bidang yakni atap segitiga dan trapesium. Dalam urusan desain, lokasi tinggal joglo pun memiliki sekian banyak  jenis yang biasa dikenal dengan Pangrawit, Limasan Lawakan, Jompongan, Mangkurat, Sinom, Hageng dan Tinandhu.

Saat Ini Rumah Adat Jawa Tengah Mulai Digemari

Rumah Adat Jawa tengah
Rumah Joglo


Rumah adat Jawa Tengah yang berupa Joglo merupakan sebuah tempat tinggal adat yang berada di sebuah provinsi Jawa Tengah. Pada zaman dulu, tempat tinggal joglo ialah sebuah simbol dari status sosial yang hanya mampu dimiliki oleh sebanyak orang dan tentunya yang mempunyai posisi penting pada masa itu.

Maka dari tersebut rumah Joglo yang menjadi Rumah Adat Jawa Tengah, janganlah kalian heran bila orang yang menempati rumah ini merupakan para kalangan bangsawan, orang kaya, orang terpandang, dan juga seorang raja. Akan tetapi, sekarang ini telah tidak tidak banyak dijumpai tempat tinggal joglo di mana-mana dan dihuni oleh sebanyak macam kalangan masyarakat.

Bentuk Rumah Adat Joglo Rumah adat Jawa Tengah


Bentuk tempat tinggal joglo pada zaman dahulu adalah berbentuk bujur sangkar dan ditopang oleh empat buah tiang di dalamnya. Tiang-tiang ini memiliki istilah yaitu 'saka guru'. Nah, penopang tiang itu merupakan sebuah blandar bersusun yang biasa dikenal dengan 'tumpangsari'.

Mengikuti perkembangan zaman, tempat tinggal ini mempunyai sekian tidak sedikit macam modifikasi sendiri-sendiri, sesuai dengan orang yang menempatinya. Akan tetapi bentuk yang paling sering dijumpai ialah format persegi. Dalam hal bahan, tempat tinggal ini selalu menggunakan bahan kayu. Kayu yang digunakan seperti kayu jati, sengon serta bahan pohon kelapa. Dikarenakan dalam pemakaiaan kayu dinilai lebih awet, tahan lama, dan memiliki kekuatan tinggi.

Ciri Khas Rumah adat Jawa Tengah


Ciri khas lain yang dimiliki rumah adat ini merupakan atapnya. Atap yang digunakan oleh tempat tinggal ini merupakan perpaduan dari dua bidang yaitu atap segitiga dan trapesium. Dalam hal desain, tempat tinggal joglo juga mempunyai sekian tidak sedikit jenis yang biasa dikenal dengan Pangrawit, Limasan Lawakan, Jompongan, Mangkurat, Sinom, Hageng dan Tinandhu.

Di dalam urusan desain, lokasi tinggal ini memiliki sekian banyak  macam unsur ruangan tersendiri. Masing - masing memiliki sekian banyak  macam ruang memeiliki nama dan kegunaannya tersendiri. Seperty ,

Pendapa

Bagian yang adalahpenghubung dari depan joglo yang memiliki luas tanpa sekat. Digunakan guna acara besar.

Pringgitan

Bagian yang menghubungkan pendopo dan ruang dalem. Ruangan ini dipakai sebagai ruang tamu.

Dalem

Tempat ini seringkali dipergunakan sebagai lokasi santai keluarga.

Sentok

Ruangan yang bermanfaat sebagai lokasi istirahat. Besar ruangannya dan pun jumlahnya tergantung dari berapa tidak sedikit penghuninya.

Gandok

Ruang ini mempunyai dua bagian, Gandok kiwo ( kiri ) dan Gandok tengen ( kanan ) yang bermanfaat sebagai gudang, guna menyimpan dagangan si empunya rumah, dan dijadikan lumbung.

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan – Rumah adat sebagai unsur dari kebudayaan pastinya mempunyai keberagaman dengan ciri khasnya masing-masing. Begitu pula dengan Sulawesi Selatan yang mempunyai keragaman lokasi tinggal adat cocok suku setiap dalam satu kesatuan lokasi tinggal adat Sulawesi Selatan.

Rumah adat untuk masyarakat Sulawesi Selatan dirasakan sebagai sesuatu yang sakral sebab di masing-masing bagiannya mempunyai filosofi tersendiri. Terlepas dari itu, lokasi tinggal adat Sulawesi Selatan mempunyai nilai artistik yang tinggi.

Dengan arsitekturnya khas unsur timur dan pengaruh lainnya menjadikan keberagaman lokasi tinggal adat Sulawesi Selatan semakin unik. Rumah adat Sulawesi Selatan mempunyai keragaman menurut suku masing-masing, diantaranya:

1. Rumah Adat Suku Makassar


Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Suku Makassar bertolak belakang dengan suku lainnya. Masyarakat Makassar menyebut lokasi tinggal dengan sebutan Balla. Rumah suku Makassar berbentuk panggung yang tingginya 3 meter dari tanah. Rumah ini ditahan dengan kayu yang jumlahnya 5 pengampu ke arah belakang dan 5 pengampu ke arah samping.

Berbeda dengan lokasi tinggal seorang bangsawan yang tingkat perekonomiannya tinggi, seringkali ukurannya lebih besar. Di samping itu, jumlah penyangga seringkali 5 pengampu ke arah samping dan 6 atau lebih pengampu ke arah belakang.

Untuk atap lokasi tinggal Makassar ini sendiri berbentuk pelana bersudut lancip yang menghadap ke bawah. Atap rumah dapat terbuat dari nipah, rumbia, bambu, ijuk, ataupun alang-alang. Uniknya, di unsur puncak atap yang berbatasan dengan dinding ada format segitiga yang disebut timbaksela.

Timbaksela yang terdapat dipuncak atap ini mempunyai simbol tersendiri untuk masyarakat Makassar yakni menandakan derajat kebangsawanan mereka. Timbaksela yang tidak bersusun dipunyai warga biasa sementara yang bersusun tiga ke atas kepunyaan bangsawan, sementara susunan 5 keatas kepunyaan bangsawan yang melaksanakan jabatan pemerintahan.

Ada pun yang disebut tukak, yakni tangga yang dipakai dalam lokasi tinggal tersebut. Bagi bangsawan, tukak mereka terdiri 3 atau 4 anak induk tangga dengan pegangan (coccorang). Sedangkan penduduk biasa tukak berjumlah aneh dan tidak mempunyai coccorang.

Aturan dalam lokasi tinggal Makassar seringkali bagian atas dibawah atap dibuatkan loteng guna menyimpan barang, contoh menyimpan padi. Sedangkan di unsur bawah lokasi tinggal dibuatkan siring yang difungsikan sebagai gudang.

2. Rumah Adat Suku Bugis

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Suku Bugis dalam pembangunannya di samping dipengaruhi kebiasaan tradisional mereka juga diprovokasi agama Islam. Hal ini sebab Islam sudah membudaya dan dapat dilihat dari mereka membina rumah yang banyak sekali berorientasi ke arah kiblat.

Rumah adat Sulawesi Selatan yang satu ini lumayan unik. Pasalnya, lokasi tinggal yang diciptakan oleh masyarakat Bugis ini tidak memakai satupun paku, tetapi digantikan oleh besi ataupun kayu. Rumah yang dibangun pun menurut kedudukan sosial mereka. Rumah saoraja dipakai untuk kalangan bangsawan, sementara bola dipakai rakyat biasa. Baik Rumah saoraja maupun bola terdiri 3 bagian, diantaranya :

Rakkaeng (Bugis)/pemmakang (Makassar), dipakai untuk menyimpan benda pusaka maupun bahan makanan.
Bola atau kalle bala, yakni ruang-ruang khusus laksana ruang tamu, ruang tidur, maupun dapur
Awasao atau passiringan, dipakai untuk menyimpan perangkat pertanian maupun guna ternak.
Bagian unik lainnya dari lokasi tinggal adat Suku Bugis ialah ornamennya. Ornamen tidak hanya dipakai sebagai hiasan. Lebih dari itu, ornamen menggambarkan  simbol status empunya rumah.

3. Rumah Adat Suku Luwuk

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Sulawesi unsur selatan Suku Luwuk dulunya ialah rumah Raja Luwu. Raja Luwu yang adalahrumah adat Sulawesi Selatan ini di bina dengan 88 tiang berbahan utama kayu. Bentuk lokasi tinggal ini persegi empat yang mana antara jendela dan pintu ukurannya sama. Di samping itu, lokasi tinggal adat Luwuk mempunyai 3-5 bubungan sebagai penanda empunya rumah tersebut.

Bagian kesatu lokasi tinggal ini tampak ruangan yang luas yang mana dulunya dipakai untuk membicarakan masalah kerajaan dengan rakyat. Dibagian kedua sesudah ruangan itu akan anda temukan dua kamar yang mana dipakai untuk datuk dan sang raja. Bagian terakhir pun akan anda temukan dua kamar tetapi ukurannya lebih kecil.

Yang memisahkan rumah ini dengan lokasi tinggal lainnya ialah ukiran dan pahatan ornamennya. Ornamen lokasi tinggal adat ini dinamakan bunga prengreng yang menggambarkan  filosofi hidup menjalar sulur yang dengan kata lain hidupnya tidak terputus-putus. Ornamen ini bisa ditemukan pada induk tangga, papan jendela, maupun anjong (tutup bangunan).

4. Rumah Adat Suku Mandar

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Suku Mandar memiliki format yang sama dengan lokasi tinggal adat Bugis dan Makassar. Namun, dapat anda lihat perbedaannya yang terletak pada unsur teras (lego) yang lebih besar. Di samping itu, andai kita menyaksikan atapnya, maka bentuknya laksana ember yang oleng ke depan.

5. Rumah Adat Suku Toraja

Image result for Rumah Adat Suku Toraja

Rumah Adat Sulawesi Selatan  Suku Toraja disebut tongkonan. Tongkonan berdiri di atas tumpukan kayu dengan ukiran warna merah, hitam, dan kuning. Tongkonan menggambarkan  hubungan dengan leluhur mereka sehingga lokasi tinggal ini dipakai sebagai pusat spiritual mereka.

Rumah ini adalahrumah panggung dari kayu yang bangunannya mempunyai 3 bagian. Bagiannya terdiri atas ulu banua (atap), kalle banua (badan rumah), dan suluk banua (kaki rumah). Bagi tata ruang sendiri terdapat ruang unsur utara (ruang tamu), tengah (ruang keluarga), dan unsur selatan (ambung). Tongkonan dikenal dengan 3 jenis, yakni :

Tongkonan layuk. Bagi tongkonan layuk kegunaannya sebagai tempat dominasi tertinggi sebab sebagai pusat pemerintahan
Tongkonan pekanberan (pekaindoran). Pakaindoran Biasanya dipunyai oleh anggota family yang memiliki status dalam adat
Tongkonan batu. Tongkonan ini dipakai oleh penduduk biasa masyarakat Toraja

Seperti lokasi tinggal adat lainnya, ornamen di dalam lokasi tinggal Toraja mengindikasikan konsep keagamaan yang dinamakan passura (penyampaian). Setiap guratan ukiran pada kayu berisi nilai yang magis untuk pemiliknya.

Itulah aneka rumah adat Sulawesi Selatan yang masing-masing bertolak belakang antara satu suku dengan suku lainnya. Perbedaan itulah yang memperkaya aneka dan kebudayaan Sulawesi Selatan dalam lokasi tinggal adat. Rumah adat itu tidak melulu difungsikan sebagai lokasi tinggal tetapi ada filosofi tersendiri di masing-masing bagiannya.