Renovasi Rumah Adat Gorga

Rumah Adat


Rumah Adat - Sekitar 40 lokasi tinggal adat gorga yang sedang di Huta Raja, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangaruruan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, akan direvitalisasi pemerintah melewati Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Berdasarkan keterangan dari Dirjen Cipta Karya Danis H Sumadilaga, revitalisasi ini dilakukan tak melulu untuk memperbaiki situasi rumah yang mayoritas sudah mulai rusak dampak telah di bina ratusan tahun yang lalu, tetapi pun untuk menjaga aspek kebiasaan yang terdapat di distrik tersebut.

“Kita juga dapat mempertahankan heritage dari bangunan bangunan itu, dan pun kita dukung dengan fasilitas-fasilitas,” kata Danis untuk Kompas.com ketika berada di lokasi, Senin (29/7/2019).

Rumah Adat Gorga Telan Anggaran Rp 20 Miliar


Setidaknya, perkiraan yang diperlukan untuk merevitalisasi suatu rumah menjangkau Rp 300 juta.

Rumah Adat -Di samping itu, pun akan dilaksanakan penataan area serta penggantian lokasi tinggal warga yang telah berpindah menjadi bangunan yang lebih modern. Bangunan itu nantinya bakal diganti dengan lokasi tinggal gorga yang baru. “Kalau tadi yang teridentifikasi dari informasi saja terdapat 40, nanti anda survei lagi.

Renovasi Rumah Adat Gorga


Tapi mungkin sejumlah bangunan yang tersebut tidak seluruh itu,” cetus Danis. “Untuk perkiraan kami hitung dulu. Kalau saya dari lokasi tinggal ya dengan 40 gitu barangkali antara Rp 15 miliar sampai Rp 20 miliar,” imbuh dia.

Rencananya, revitalisasi ini bakal melibatkan arsitek berpengalaman Yori Antar untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan yang ada. Ia juga meyakinkan bahwa masyarakat bakal mendapat deviden dari revitalisasi ini.

“Nanti lokasi tinggal direhabailitasi jadi homestay, agar ada income, jadi masyarakatnya ikut menikmati akibat pembangunan pariwisata,” kata Yori.

Filosofi Rumah Adat di Jawa Tengah Dengah Keunikannya

ada peluang kali ini bakal mengupas tuntas tentang lokasi rumah adat jawa tengah atau yang umum di sebut joglo, ayo kita kupas sejarah, filosofi dan arti yang terdapat dalam lokasi tinggal adat jawa tengah
Rumah adat jawa tengah atau umum di sebut dengan Joglo telah menjadi primadona di kalangan masyarakat pada umumnya. walaupun telah jarang dijadikan sebagai lokasi tinggal, Rumah Joglo sekarang dijadikan suatu konsep yangh amat unik untuk restoran ataupun hotel. Pengunjung pun dapat merasakan keadaan desa di Jawa Tengah pada zaman dahulu kala.
Sebenarnya, sejumlah desa di Jawa Tengah masih menggunakan Rumah Joglo sebagai lokasi tinggal. bilaSobat berjalan-jalan di suatu desa di Jawa Tengah, masih dapat menjumpai lokasi tinggal Joglo yang masih asli. Namun jumlahnya yang paling sedikit sekali.
Di sejumlah tempat, rumah tersebut dikosongkan dan digunakan hanya guna upacara ruwatan saja. Masyarakat sekarang lebih memilih membina rumah dengan konsep yang modern.
Rumah Adat Tajug

Sejarah Rumah Joglo

Sebenarnya, nama lokasi tinggal adat Jawa Tengah bujan melulu Rumah Joglo. Ada 4 format tempat bermukim tradisional yang terdapat di Jawa Tengah yaitu format Panggangpe, format Kampung, format Limasan, dan format Joglo. Bentuk Joglo memang lebih dikenal bila dikomparasikan dengan format lainnya.
Rumah Joglo, pada jaman dahulu, adalahsimbol kedudukan sosial dan hanya dipunyai oleh orang yang dapat atau kaya. Bahan-bahan untuk menciptakan Joglo memang jauh lebih mahal dan lebih banyak. Selain memerlukan biaya, masa-masa yang diperlukan juga lumayan banyak.
Dan karna urusan itulah anggapan lokasi tinggal Joglo melulu boleh dipunyai oleh bangsawan, raja, dan pangeran juga berkembang. Hingga masyarakat biasa yang mempunyai penghasilan rendah tidak dapat dan tidak berani guna membuatnya. Masyarakat dengan pendapatan rendah lazimnya akan menciptakan rumah Panggangpe, Limasan, atau Kampung yang lebih hemat ongkos dan waktu.
Sekarang, lokasi tinggal Joglo dapat dimiliki oleh sekian banyak kalangan. Bahan-bahan yang lebih variatif dengan harga tercapai sudah tidak sedikit di ual di dipasaran. Hal tersebut membuat pembuatannya menjadi hemat ongkos dibandingkan jaman dahulu dahulu kala.
Rumah Adat Panggang Pe

Bentuk dan Bahan Rumah Joglo

Pada tadinya rumah Joglo memiliki format bujur sangkar dengan empat pokok tiang di tengahnya. Tiang itu disebut saka guru. lalu guna menopang tiang tersebut digunakan blandar bersusun yang mempunyai nama tumpang sari. Seiring berkembangnya zaman, terdapat tambahan-tambahan ruang di dalam lokasi tinggal Joglo . Namun, dasar rumahnya tetap berbentuk persegi.
Bahan dasar untuk menciptakan rumah Joglo yakni Kayu. Berbagai jenis kayu dapat dipakai untuk menciptakan rumah adat Joglo. kayu yang biasa digunakan pada zaman dahulu ialah jati, sengon, dan batang pohon kelapa.
Kayu jati tidak jarang kali menjadi primadona guna dijadikan bahan utama dalam penciptaan rumah joglo. Ketahanan, keawetan, dan kekuatan kayu jati menciptakan kayu jati menjadi pilihan sangat utama pada ketika itu. Rumah Joglo yang tercipta dari kayu jati bahkan masih dapat bertahan sampai saat ini. Sekarang, penciptaan rumah Joglo dilaksanakan dengan membaur jenis-jenis kayu tertentu dengan sekian banyak macam alasan, salah satunya guna menghemat ongkos karna harga kayu jati ketika ini semakin tinggi.
Rumah Adat Joglo

Ciri Khas Rumah Joglo

Bagian atap lokasi tinggal adat jawa tengah tercipta dari genteng tanah liat. Di samping itu, masyarakat tradisonal pun memakai ijuk, jerami, atau alang-alang untuk menciptakan atap rumahnya. Pemakaian bahan-bahan dari alam dengan atap yang tinggi menciptakan penghuni merasa sejuk dan nyaman guna ditempati.
Sirkulasi udara di lokasi tinggal Joglo paling baik. Atap yang diciptakan bertingkat-tingkat menyimpan arti tersendiri. Ketinggian atap Joglo yang bertahap memiliki hubungan dengan pergerakan insan dengan udara yang dialami olehnya .
Selain format atap bertingkat, di antara hal yang menjadi karakteristik dari lokasi tinggal Joglo yaitu format atapnya. Atap lokasi tinggal Joglo ialah perpaduan dari dua bidang atap segitiga dengan dua bidang atap trapesium. Di atap-atap tersebut mempunyai sudut kemiringan yang beda. Atap Joglo tidak jarang kali ada di tengah dan dijepit oleh atap serambi.
Gabungan dari atap Joglo dan serambi tersebut ada dua macam. Gabungan kesatu mempunyai nama Lambang Sari. Atap Joglo Lambang Sari adalahatap Joglo yang disambung dengan atap serambi. Gabungan kedua yaitu campuran dengan menyisakan lubang-lubang udara pada atap. Gabungan ini memiloki nama Atap Lambang Gantung.
Desain lokasi tinggal Joglo sendiri tidak sembarangan. Desain-desain tersebut sudah mengerucut menjadi sejumlah Joglo. Nama-nama lokasi tinggal Joglo yakni Pangrawit, Jompongan, Limasan Lawakan, Tinandhu, Mangkurat, Sinom, dan Hageng.
Rumah Adat Joglo

Filosofi Rumah Joglo

Pemberian nama Joglo pada lokasi tinggal adat Jawa Tengah ini kriteria dengan sekian banyak macam makna. Kata Joglo dipungut dari kata “tajug” dan “loro”. Makna dari kata itu ialah penggabungan dua tajug. Atap lokasi tinggal Joglo memang berbentuk tajug yang serupa gunung.
Masyarakat Jawa pada umumnya paling percaya bahwa gunung adalahsebuah simbol yang sakral. Berdasarkan keterangan dari mereka, gunung ialah tempat tinggal semua dewa. Karena urusan lah, dua tajug dipilih sebagai format atap lokasi tinggal adat Jawa Tengah. Atap lokasi tinggal Joglo ditahan dengan empat pilar utama yang dinamakan Saka Guru. Pilar-pilar itu ialah representasi dari arah mata angin yakni timur, selatan, utaran, dan barat.

Rumah Joglo terdiri atas tiga unsur yaitu

bagian depan (pendapa), tengah (pringgitan), ruang utama (dalem).
Dalam pembagian lokasi tinggal ini, terdapat prinsip hirarki yang amat unik. Bagian depan mempunyai sifat umum dan unsur belakang mempunyai sifat khusus. akses orang yang dapat masuk ke dalam ruangan bakal berbeda-beda.

Bagian Bagian Rumah Joglo:

Pendapa.

Pendapa terdapat tepat di unsur depan. Hal ini mengindikasikan bahwa sifat orang Jawa yang ramah dan terbuka. Supaya tamu bisaduduk, lazimnya pendapa dilengkapi dengan tikar. Penggunaan tikar dimaksudkan supaya tidak terdapat terjadi kesenjangan antara tamu dan empunya rumah.

Pringgitan.

Bagian ini adalahtempat di mana pagelaran peragaan wayang diadakan. Umumnya digunakan saat upacara ruwatan. Di sini, empunya rumah pun menyimbolkan diri sebagai Dewi Sri. Dewi Sri adalahdewi yang dirasakan sebagai sumber dari segala kehidupan, kesuburan, dan pun kebahagiaan.

Dalem atau ruang utama keluarga.

Di sini, terdapat kamar-kamar yang dinamakan senthong. Jaman dulu, sentong hanya diciptakan tiga bilik saja. Kamar kesatu guna keluarga laki-laki, kamar kedua dikosongkan, dan kamar ketiga guna keluarga perempuan.

Mengapa kamar kedua dikosongkan?

kamar kedua yang dinamakan dengan krobongan ini digunakan sebagai lokasi untuk menyimpan pusaka sebagai pemujaan untuk Dewi Sri. Kamar ini dirasakan sebagai bagian lokasi tinggal yang sangat suci. Walaupun kamar ini dikosongkan, kamar ini tetap dipenuhi lengkap dengan lokasi tidur dan perlengkanya.
Sebagai ekstra pengetahuan mengenai adat jawa tengah, simak penjabaran inilah ini tentang baju adat jawa tengah, tarian adat jawa tengah dan macam-macam lokasi tinggal adat jawa tengah

Baju Adat Jawa Tengah:

Jawi Jangkep.
Kebaya.
Batik.
Kanigaran.
Surjan dan Beskap.
Basahan.

Tarian Tradisional Dari Jawa Tengah :

Tari Bedhaya Ketawang
Tari Gambyong
Tari Bondan Payung
Tari Serimpi
Tari Beksan Wireng
Tari Ebeg atau Kuda Lumping
Kethek Ogleng
Sintren
Tari Jlantur
Tari Prawiroguno
Tari Ronggeng
Tari Angsa

Macam-macam lokasi tinggal adat jawa tengah

Rumah Kampung
Rumah Limasan

Demikianlah ulasan tentang tulisan ini, Semoga bermanfaat dan selalu kunjungi wikihouse.xyz

Pengertian Rumah Adat

Pengertian Rumah Adat

Pengertian Rumah Adat - Budihardjo (1994:57) rumah ialah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam format kreativitas dan pemberian makna untuk kehidupan penghuninya. Selain tersebut rumah ialah cerminan diri, yang dinamakan Pedro Arrupe sebagai ”Status Conferring Function”, kesuksesan seseorang terlukis dari lokasi tinggal dan lingkungan lokasi huniannya.

Pengertian Rumah Adat

Rumah Adat ialah bangunan yang mempunyai cirikhas khusus, dipakai untuk lokasi hunian oleh sebuah suku bangsa tertentu.Rumah adat adalahsalah satu representasi kebudayaan yang sangat tinggi dalam suatu komunitas suku/masyarakat. Keberadaan lokasi tinggal adat di Indonesia sangat pelbagai dan mempunyai makna yang urgen dalam perspektif sejarah, warisan, dan peradaban masyarakat dalam suatu peradaban.

Pengertian Rumah Adat

Rumah-rumah adat di indonesia memiliki format dan arsitektur masing-masing wilayah sesuai dengan kebiasaan adat lokal. Rumah adat pada lazimnya dihiasi ukiran-ukiran indah, pada jaman dulu, lokasi tinggal adat yang terlihat paling estetis biasa dipunyai para family kerajaan atau ketua adat setempat memakai kayu-kayu opsi dan pengerjaannya dilaksanakan secara tradisional melibatkan tenaga berpengalaman dibidangnya, Banyak rumah-rumah adat yang ketika ini masih berdiri kokoh dan sengaja dijaga dan dilestarikan sebagai simbol kebiasaan Indonesia.

Rumah Joglo Kaya Sejarah , Rumah Adat Terkenal di Indonesia



Rumah Adat Jawa Tengah – Rumah adat joglo ialah sebuah lokasi tinggal adat yang berada di suatu provinsi Jawa Tengah. Pada zaman dulu, lokasi tinggal joglo adalahsebuah simbol dari kedudukan sosial yang melulu mampu dipunyai oleh sejumlah orang dan pastinya yang memiliki posisi urgen pada masa itu.

Maka dari itu, janganlah kalian heran andai orang yang menduduki rumah ini ialah para kalangan bangsawan, orang kaya, orang terpandang, dan pun seorang raja. Akan tetapi, kini ini sudah tidak sedikit dijumpai lokasi tinggal joglo di mana-mana dan dihuni oleh sejumlah macam kalangan masyarakat.

Rumah Joglo, Rumah Adat Terkenal di Indonesia yang Kaya Sejarah


Bentuk lokasi tinggal joglo pada zaman dahulu merupakan berbentuk bujur sangkar dan ditopang oleh empat buah tiang di dalamnya. Tiang-tiang ini mempunyai istilah yakni ‘saka guru’. Nah, penopang tiang itu ialah sebuah blandar bersusun yang biasa dikenal dengan ‘tumpangsari’.

Mengikuti pertumbuhan zaman, lokasi tinggal ini memiliki sekian banyak  macam modifikasi sendiri-sendiri, cocok dengan orang yang menempatinya. Akan tetapi format yang sangat sering dijumpai ialah bentuk persegi. Dalam urusan bahan, lokasi tinggal ini selalu memakai bahan kayu. Kayu yang dipakai seperti kayu jati, sengon serta bahan pohon kelapa. Dikarenakan dalam pemakaiaan kayu dinilai lebih awet, tahan lama, dan mempunyai kekuatan tinggi.

Ciri khas beda yang dipunyai rumah adat ini ialah atapnya. Atap yang dipakai oleh lokasi tinggal ini ialah perpaduan dari dua bidang yakni atap segitiga dan trapesium. Dalam urusan desain, lokasi tinggal joglo pun memiliki sekian banyak  jenis yang biasa dikenal dengan Pangrawit, Limasan Lawakan, Jompongan, Mangkurat, Sinom, Hageng dan Tinandhu.

Saat Ini Rumah Adat Jawa Tengah Mulai Digemari

Rumah Adat Jawa tengah
Rumah Joglo


Rumah adat Jawa Tengah yang berupa Joglo merupakan sebuah tempat tinggal adat yang berada di sebuah provinsi Jawa Tengah. Pada zaman dulu, tempat tinggal joglo ialah sebuah simbol dari status sosial yang hanya mampu dimiliki oleh sebanyak orang dan tentunya yang mempunyai posisi penting pada masa itu.

Maka dari tersebut rumah Joglo yang menjadi Rumah Adat Jawa Tengah, janganlah kalian heran bila orang yang menempati rumah ini merupakan para kalangan bangsawan, orang kaya, orang terpandang, dan juga seorang raja. Akan tetapi, sekarang ini telah tidak tidak banyak dijumpai tempat tinggal joglo di mana-mana dan dihuni oleh sebanyak macam kalangan masyarakat.

Bentuk Rumah Adat Joglo Rumah adat Jawa Tengah


Bentuk tempat tinggal joglo pada zaman dahulu adalah berbentuk bujur sangkar dan ditopang oleh empat buah tiang di dalamnya. Tiang-tiang ini memiliki istilah yaitu 'saka guru'. Nah, penopang tiang itu merupakan sebuah blandar bersusun yang biasa dikenal dengan 'tumpangsari'.

Mengikuti perkembangan zaman, tempat tinggal ini mempunyai sekian tidak sedikit macam modifikasi sendiri-sendiri, sesuai dengan orang yang menempatinya. Akan tetapi bentuk yang paling sering dijumpai ialah format persegi. Dalam hal bahan, tempat tinggal ini selalu menggunakan bahan kayu. Kayu yang digunakan seperti kayu jati, sengon serta bahan pohon kelapa. Dikarenakan dalam pemakaiaan kayu dinilai lebih awet, tahan lama, dan memiliki kekuatan tinggi.

Ciri Khas Rumah adat Jawa Tengah


Ciri khas lain yang dimiliki rumah adat ini merupakan atapnya. Atap yang digunakan oleh tempat tinggal ini merupakan perpaduan dari dua bidang yaitu atap segitiga dan trapesium. Dalam hal desain, tempat tinggal joglo juga mempunyai sekian tidak sedikit jenis yang biasa dikenal dengan Pangrawit, Limasan Lawakan, Jompongan, Mangkurat, Sinom, Hageng dan Tinandhu.

Di dalam urusan desain, lokasi tinggal ini memiliki sekian banyak  macam unsur ruangan tersendiri. Masing - masing memiliki sekian banyak  macam ruang memeiliki nama dan kegunaannya tersendiri. Seperty ,

Pendapa

Bagian yang adalahpenghubung dari depan joglo yang memiliki luas tanpa sekat. Digunakan guna acara besar.

Pringgitan

Bagian yang menghubungkan pendopo dan ruang dalem. Ruangan ini dipakai sebagai ruang tamu.

Dalem

Tempat ini seringkali dipergunakan sebagai lokasi santai keluarga.

Sentok

Ruangan yang bermanfaat sebagai lokasi istirahat. Besar ruangannya dan pun jumlahnya tergantung dari berapa tidak sedikit penghuninya.

Gandok

Ruang ini mempunyai dua bagian, Gandok kiwo ( kiri ) dan Gandok tengen ( kanan ) yang bermanfaat sebagai gudang, guna menyimpan dagangan si empunya rumah, dan dijadikan lumbung.

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan – Rumah adat sebagai unsur dari kebudayaan pastinya mempunyai keberagaman dengan ciri khasnya masing-masing. Begitu pula dengan Sulawesi Selatan yang mempunyai keragaman lokasi tinggal adat cocok suku setiap dalam satu kesatuan lokasi tinggal adat Sulawesi Selatan.

Rumah adat untuk masyarakat Sulawesi Selatan dirasakan sebagai sesuatu yang sakral sebab di masing-masing bagiannya mempunyai filosofi tersendiri. Terlepas dari itu, lokasi tinggal adat Sulawesi Selatan mempunyai nilai artistik yang tinggi.

Dengan arsitekturnya khas unsur timur dan pengaruh lainnya menjadikan keberagaman lokasi tinggal adat Sulawesi Selatan semakin unik. Rumah adat Sulawesi Selatan mempunyai keragaman menurut suku masing-masing, diantaranya:

1. Rumah Adat Suku Makassar


Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Suku Makassar bertolak belakang dengan suku lainnya. Masyarakat Makassar menyebut lokasi tinggal dengan sebutan Balla. Rumah suku Makassar berbentuk panggung yang tingginya 3 meter dari tanah. Rumah ini ditahan dengan kayu yang jumlahnya 5 pengampu ke arah belakang dan 5 pengampu ke arah samping.

Berbeda dengan lokasi tinggal seorang bangsawan yang tingkat perekonomiannya tinggi, seringkali ukurannya lebih besar. Di samping itu, jumlah penyangga seringkali 5 pengampu ke arah samping dan 6 atau lebih pengampu ke arah belakang.

Untuk atap lokasi tinggal Makassar ini sendiri berbentuk pelana bersudut lancip yang menghadap ke bawah. Atap rumah dapat terbuat dari nipah, rumbia, bambu, ijuk, ataupun alang-alang. Uniknya, di unsur puncak atap yang berbatasan dengan dinding ada format segitiga yang disebut timbaksela.

Timbaksela yang terdapat dipuncak atap ini mempunyai simbol tersendiri untuk masyarakat Makassar yakni menandakan derajat kebangsawanan mereka. Timbaksela yang tidak bersusun dipunyai warga biasa sementara yang bersusun tiga ke atas kepunyaan bangsawan, sementara susunan 5 keatas kepunyaan bangsawan yang melaksanakan jabatan pemerintahan.

Ada pun yang disebut tukak, yakni tangga yang dipakai dalam lokasi tinggal tersebut. Bagi bangsawan, tukak mereka terdiri 3 atau 4 anak induk tangga dengan pegangan (coccorang). Sedangkan penduduk biasa tukak berjumlah aneh dan tidak mempunyai coccorang.

Aturan dalam lokasi tinggal Makassar seringkali bagian atas dibawah atap dibuatkan loteng guna menyimpan barang, contoh menyimpan padi. Sedangkan di unsur bawah lokasi tinggal dibuatkan siring yang difungsikan sebagai gudang.

2. Rumah Adat Suku Bugis

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Suku Bugis dalam pembangunannya di samping dipengaruhi kebiasaan tradisional mereka juga diprovokasi agama Islam. Hal ini sebab Islam sudah membudaya dan dapat dilihat dari mereka membina rumah yang banyak sekali berorientasi ke arah kiblat.

Rumah adat Sulawesi Selatan yang satu ini lumayan unik. Pasalnya, lokasi tinggal yang diciptakan oleh masyarakat Bugis ini tidak memakai satupun paku, tetapi digantikan oleh besi ataupun kayu. Rumah yang dibangun pun menurut kedudukan sosial mereka. Rumah saoraja dipakai untuk kalangan bangsawan, sementara bola dipakai rakyat biasa. Baik Rumah saoraja maupun bola terdiri 3 bagian, diantaranya :

Rakkaeng (Bugis)/pemmakang (Makassar), dipakai untuk menyimpan benda pusaka maupun bahan makanan.
Bola atau kalle bala, yakni ruang-ruang khusus laksana ruang tamu, ruang tidur, maupun dapur
Awasao atau passiringan, dipakai untuk menyimpan perangkat pertanian maupun guna ternak.
Bagian unik lainnya dari lokasi tinggal adat Suku Bugis ialah ornamennya. Ornamen tidak hanya dipakai sebagai hiasan. Lebih dari itu, ornamen menggambarkan  simbol status empunya rumah.

3. Rumah Adat Suku Luwuk

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Sulawesi unsur selatan Suku Luwuk dulunya ialah rumah Raja Luwu. Raja Luwu yang adalahrumah adat Sulawesi Selatan ini di bina dengan 88 tiang berbahan utama kayu. Bentuk lokasi tinggal ini persegi empat yang mana antara jendela dan pintu ukurannya sama. Di samping itu, lokasi tinggal adat Luwuk mempunyai 3-5 bubungan sebagai penanda empunya rumah tersebut.

Bagian kesatu lokasi tinggal ini tampak ruangan yang luas yang mana dulunya dipakai untuk membicarakan masalah kerajaan dengan rakyat. Dibagian kedua sesudah ruangan itu akan anda temukan dua kamar yang mana dipakai untuk datuk dan sang raja. Bagian terakhir pun akan anda temukan dua kamar tetapi ukurannya lebih kecil.

Yang memisahkan rumah ini dengan lokasi tinggal lainnya ialah ukiran dan pahatan ornamennya. Ornamen lokasi tinggal adat ini dinamakan bunga prengreng yang menggambarkan  filosofi hidup menjalar sulur yang dengan kata lain hidupnya tidak terputus-putus. Ornamen ini bisa ditemukan pada induk tangga, papan jendela, maupun anjong (tutup bangunan).

4. Rumah Adat Suku Mandar

Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Suku Mandar memiliki format yang sama dengan lokasi tinggal adat Bugis dan Makassar. Namun, dapat anda lihat perbedaannya yang terletak pada unsur teras (lego) yang lebih besar. Di samping itu, andai kita menyaksikan atapnya, maka bentuknya laksana ember yang oleng ke depan.

5. Rumah Adat Suku Toraja

Image result for Rumah Adat Suku Toraja

Rumah Adat Sulawesi Selatan  Suku Toraja disebut tongkonan. Tongkonan berdiri di atas tumpukan kayu dengan ukiran warna merah, hitam, dan kuning. Tongkonan menggambarkan  hubungan dengan leluhur mereka sehingga lokasi tinggal ini dipakai sebagai pusat spiritual mereka.

Rumah ini adalahrumah panggung dari kayu yang bangunannya mempunyai 3 bagian. Bagiannya terdiri atas ulu banua (atap), kalle banua (badan rumah), dan suluk banua (kaki rumah). Bagi tata ruang sendiri terdapat ruang unsur utara (ruang tamu), tengah (ruang keluarga), dan unsur selatan (ambung). Tongkonan dikenal dengan 3 jenis, yakni :

Tongkonan layuk. Bagi tongkonan layuk kegunaannya sebagai tempat dominasi tertinggi sebab sebagai pusat pemerintahan
Tongkonan pekanberan (pekaindoran). Pakaindoran Biasanya dipunyai oleh anggota family yang memiliki status dalam adat
Tongkonan batu. Tongkonan ini dipakai oleh penduduk biasa masyarakat Toraja

Seperti lokasi tinggal adat lainnya, ornamen di dalam lokasi tinggal Toraja mengindikasikan konsep keagamaan yang dinamakan passura (penyampaian). Setiap guratan ukiran pada kayu berisi nilai yang magis untuk pemiliknya.

Itulah aneka rumah adat Sulawesi Selatan yang masing-masing bertolak belakang antara satu suku dengan suku lainnya. Perbedaan itulah yang memperkaya aneka dan kebudayaan Sulawesi Selatan dalam lokasi tinggal adat. Rumah adat itu tidak melulu difungsikan sebagai lokasi tinggal tetapi ada filosofi tersendiri di masing-masing bagiannya.